Mengajari Anak Mengelola Emosi Sejak di Bangku Sekolah

Pukul tujuh pagi, di ruang tamu sebuah rumah di Jakarta, seorang anak kelas dua menangis karena kaus kakinya terasa salah. Bukan hilang, bukan basah. Hanya terasa salah. Ibunya sudah menjelaskan dua kali, ayahnya sudah menawarkan pasang yang lain, dan waktu terus berjalan. Adegan seperti ini terjadi di banyak rumah, dan hampir selalu berakhir sama, yaitu orang tua yang lelah bertanya-tanya, sebenarnya apa yang sedang terjadi di dalam diri anak saya?

Jawabannya sering kali sederhana meski tidak mudah. Anak sedang merasakan sesuatu yang besar, dan ia belum punya kata untuk itu. Kemampuan mengenali, menamai, lalu menenangkan perasaan sendiri bukan sesuatu yang datang otomatis seiring bertambahnya usia. Kemampuan itu dipelajari, persis seperti anak belajar membaca atau berhitung. Bedanya, membaca diajarkan dengan sengaja di sekolah, sementara mengelola emosi sering dibiarkan tumbuh sendiri dan berharap yang terbaik.

Padahal jam terpanjang dalam hidup seorang anak justru dihabiskan di sekolah. Di sanalah ia mengalami hal-hal yang paling menguji perasaannya. Ditinggal duduk sendirian saat istirahat. Kalah dalam permainan yang ia yakin bisa dimenangkan. Nilai ulangan yang jauh dari harapan setelah semalaman belajar. Ditegur guru di depan teman-temannya. Setiap peristiwa kecil itu adalah latihan emosi, entah anak siap atau tidak, entah ada yang mendampingi atau tidak.

Di sinilah pendekatan mindfulness masuk dan mengubah banyak hal. Mindfulness sering disalahpahami sebagai kegiatan duduk diam sambil memejamkan mata, padahal intinya jauh lebih membumi. Mindfulness adalah keterampilan menyadari apa yang sedang terjadi pada diri sendiri saat ini juga, tanpa langsung bereaksi. Bagi seorang anak, itu berarti jeda kecil antara rasa marah dan tangan yang terlanjur mendorong teman. Jeda itu tampak sepele. Jeda itu justru segalanya.

Bayangkan bagaimana bentuknya di ruang kelas. Seorang murid gagal menyelesaikan soal dan mulai merasa panas di dada. Alih-alih langsung menutup buku dan menyerah, ia diajak menarik napas beberapa kali, merasakan kaki menapak lantai, lalu menyebutkan apa yang ia rasakan. Saya kesal. Saya malu karena teman saya sudah selesai. Begitu perasaan itu punya nama, ukurannya mengecil. Anak yang bisa menamai perasaannya jauh lebih mungkin kembali mencoba, dan kemampuan mencoba lagi inilah yang diam-diam menentukan hasil belajarnya bertahun-tahun ke depan.

Banyak orang tua mengira mengelola emosi berarti membuat anak berhenti marah, berhenti sedih, berhenti takut. Justru sebaliknya. Anak yang sehat secara emosi bukan anak yang selalu tersenyum, melainkan anak yang boleh merasakan apa pun dan tahu harus berbuat apa setelahnya. Menyuruh anak berhenti menangis hanya mengajarkan dia bahwa perasaannya merepotkan orang lain. Yang dibutuhkan bukan penekanan, melainkan penyaluran. Sekolah yang memahami ini tidak buru-buru mendiamkan anak yang menangis di koridor. Ia menemani dulu, baru bicara.

Latihan semacam ini tidak bisa berdiri sebagai kegiatan tempelan sekali seminggu. Ia harus hidup dalam ritme harian sekolah, dalam cara guru membuka pelajaran, dalam cara konflik di lapangan diselesaikan, dalam nada bicara orang dewasa saat anak sedang sulit. Global Sevilla menempatkan Mindfulness Program sebagai bagian dari pembentukan karakter, bukan sebagai sesi terpisah yang dijadwalkan lalu dilupakan. Ada pula kegiatan rutin bernama A Day of Mindfulness, dan School Peace Zone pledge yang menegaskan bahwa lingkungan sekolah harus aman, damai, serta bebas dari perundungan.

Ada satu hal yang sering terlewat dari percakapan tentang emosi anak, yaitu bahwa anak belajar terutama dari apa yang ia lihat, bukan dari apa yang ia dengar. Guru yang tetap tenang saat kelas berantakan sedang mengajarkan regulasi emosi lebih dalam daripada poster mana pun di dinding. Orang dewasa yang mengakui bahwa dirinya sedang lelah, lalu menenangkan diri di depan anak, memberi pelajaran yang tidak bisa disampaikan lewat lembar kerja. Itulah sebabnya sekolah berbasis mindfulness harus dimulai dari orang dewasa di dalamnya, sebelum sampai kepada muridnya.

Yang membuat orang tua tenang, pendekatan ini sama sekali tidak mengurangi bobot akademik. Global Sevilla, yang berdiri sejak 6 Oktober 2002, menjalankan kurikulum International Baccalaureate serta Cambridge, termasuk IGCSE. Keyakinannya sederhana, yaitu murid yang bahagia adalah murid yang berprestasi. Anak yang tidak sibuk menahan cemas punya lebih banyak ruang di kepalanya untuk berpikir. Ketenangan bukan lawan dari prestasi. Ketenangan adalah fondasinya.

Ada juga manfaat yang terasa langsung di rumah, dan biasanya inilah yang paling dihargai orang tua. Anak yang terbiasa berhenti sejenak di sekolah membawa kebiasaan itu ke meja makan, ke pertengkaran dengan adik, ke malam sebelum ujian ketika perutnya terasa mual karena gugup. Anda mungkin tidak akan mendengarnya menyebut kata mindfulness sama sekali. Yang Anda lihat hanyalah anak yang lebih mudah diajak bicara. Itu sudah cukup menjadi bukti.

Perubahannya biasanya tidak dramatis, dan justru itu yang meyakinkan. Anak mulai berkata “aku butuh waktu sebentar” alih-alih membanting pintu. Ia bercerita tentang pertengkaran di sekolah dengan runtut, bukan dengan tangis yang tersedak. Ia sanggup menunggu giliran bicara. Ia kembali ke meja belajar setelah menyerah selama sepuluh menit. Perubahan kecil ini menumpuk perlahan, sampai suatu hari Anda menyadari bahwa anak Anda sudah punya cara sendiri untuk pulih. Bukan karena ia tidak pernah jatuh, melainkan karena ia tahu jatuh bukan akhir dari segalanya. Kemampuan bangkit inilah yang paling sulit diajarkan lewat perintah, dan paling mudah ditumbuhkan lewat kebiasaan yang diulang setiap hari dengan sabar oleh orang dewasa di sekitarnya.

Bila Anda ingin melihat sendiri seperti apa suasananya, cara paling jujur adalah datang dan mengamati. Hubungi kampus Pulo Mas di Jakarta Timur atau Puri Indah di Jakarta Barat, lalu tanyakan kemungkinan mengamati langsung kelas yang sedang menjalankan sesi mindfulness. Sesi pengamatan semacam ini dapat ditanyakan ketersediaannya kepada pihak sekolah. [VERIFY] Perhatikan bagaimana anak-anak duduk, bagaimana mereka merespons ketika diminta berhenti sejenak, dan bagaimana guru menangani satu murid yang sedang tidak baik-baik saja.

Memilih sekolah pada akhirnya adalah memilih siapa yang menemani anak Anda saat ia sedang paling rapuh. Nilai akan naik dan turun, materi akan berganti setiap tahun, tetapi cara anak memperlakukan perasaannya sendiri akan ia bawa sampai dewasa. Anda bisa menelusuri lebih jauh pendekatan sebuah mindfulness school jakarta dan mengenali bagaimana keseharian itu dijalankan. Sebab anak yang tahu cara menenangkan dirinya sendiri sedang membawa bekal yang tidak akan pernah kedaluwarsa.

Mengajari Anak Mengelola Emosi Sejak di Bangku Sekolah

Navigasi pos


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *